Selasa, 01 Maret 2011

Asmara Para Tua Bangka


Nafsu lelaki rupanya tak mengenal batasan umur. Meski usianya sudah antara kepala 5 dan 7, kakek Mangun, Wongso dan Padmo dari Kulon Progo (DIY) ini masih semangat juga “ngeroyok” janda muda tetangga sendiri. Namun akibat ulahnya menodai Ny. Kemisem, 26, kini mereka mendekam di Polsek Lendah
.
Gairah kaum lelaki konon diukur dari gerak kepala ketika usia sudah jompo dan bau tanah kuburan. Perhatikan saja, dalam keadaan diam kepala seorang kakek pastilah akan mengangguk-angguk ke atas ke bawah. Itu maksudnya tak lain, dia masih mengajak dan hayo saja dalam urusan kehangatan perempuan. Beda dengan kaum hawa; dalam usia jompo mereka akan menggeleng kepala ke kanan dan kiri. Itu maksudnya: emoh, emoh, emoh…!
Rupanya seperti itukah perangai tiga kakek dari Desa Wahyuharjo Kecamatan Lendah ini? Sangat boleh jadi. Soalnya, meski beda umur masing-masing 10 tahun, ketika membahas janda Kemisem tetangga sendiri, mereka kompak sekali. Di pinggir sawah, mereka sering mempergunjingkan janda kembang yang berbodi seksi tersebut. Mbah Mangun yang berusia 55 tahun, mengagumi rambutnya yang panjang nan hitam. Begitu pula Mbah Wongso yang usia 65 tahun, dia terpesona pada betis si janda yang mbunting padi. “Awake jan semog, nek dikeloni tonjo tenan (bodinya seksi, kalau dikeloni mengasyikkan),” kata Mbah Padmo yang berusia 75 tahun.
Apakah ketiganya bersaing memperebutkan Kemisem? Tidak, ketiga kakek ini justru bersepakat membangun koalisi, untuk menuju ke pencoblosan bersama. Cuma mereka sangat tahu diri, dalam kondisi yang sudah sama-sama renta, mana mungkin Kemisem sudi meliriknya? Salah-salah mereka malah akan dipisuhi (dimaki) sebagai kakek yang tuwa tuwas (tak tahu diri). Asal tahu saja, di rumah ketiganya masih memiliki istri sendiri-sendiri, yang masih siap dikendarai.
Yang membuat mereka sedikit pede, janda muda ini sikapnya ramah dan pandai bergaul.Masalahnya, pintar bergaul bukan jaminan gampang digauli. Maka setiap akan mendekati Kemisem untuk mendeklarasikan aspirasi urusan bawahnya, selalu cemas bin gojag-gajeg (ragu). Apakah dia mau? Apakah Kemisem bisa memahami aspirasi ketiga kakek ini? Pendek kata Mbah Mangun Dkk selalu dihinggapi rasa gamang. “Jangan jangan, jangan jangan, …..jangan bobor!”, kata mereka karena kebingungan.
Untuk Mbah Mangun sendiri, yang kondisi dan posisinya lebih memungkinkan dari yang lain, juga tak berani ambil prakarsa. Dia mau, tapi malu. Dia maunya ngikut saja. Tapi asal melihat rambut Kemisem yang panjang tergerai hingga menggapai pantat, duh, duh, pendulumnya langsung kontak. Sepertinya dia mau nilapke (meninggalkan) kedua rekan seperjuangannya. Cuma, begitu ingat yang di rumah, langsung Mbah Mangun mendelep bagaikan kerupuk kena air.

Makhluk penjahat kelamin rupanya memang selalu dimanjakan setan. Dikala ketiga kakek tersebut wani-wani angas (beraninya hanya di belakang), mendadak peluang itu hadir. Malam itu sekitar pukul 20.00 Kemisem melintas sendirian, di depan gardu ronda tempat orang-orang berkongkow ria. Padahal ketiga kakek ini juga tengah berpanel diskusi tentang si janda. “Nuwun sewu mbah, wayahe ndherek langkung (permisi mbah, cucunya numpang lewat),” kata Kemisem seperti tengah melewati daerah angker saja.

Aha, itu dia; pekik ketiga kakek itu nyaris bareng. Mengingat situasi yang sepi, malam begitu basah lantaran habis hujan, keberanian Mbah Mangun Dkk segera muncul. Janda Kemisem dikejar dan begitu dapat langsung diseret ke tengah kebun. Percuma mau berteriak, karena langsung dibungkam mulutnya. Selanjutnya, terserah Anda. Mbah Mangun, Mbah Wongso dan Mbah Padmo bergantian menggarap Kemisem dengan cara urut bagus alias mana yang tampan dapat duluan!


Menerimakah Kemisem diperkosa semena-mena? Tentu saja tidak. Meski telah diberi uang tutup mulut dari para kakek masing-masing Rp 5.000,- dia tetap melapor pada orangtuanya. Tentu saja keluarga Kemisem tidak terima. Malam itu juga mereka dilaporkan ke Polsek Lendah. Nah, di saat Mbah Padmo Dkk sedang menikmati kesuksesannya, mendadak pak polisi dan pamong desa meringkusnya dan langsung digelandang ke kantor polisi. “Tua-tua keladi, makin tua makin menjadi,” omel pamong desa

2 komentar: